Wednesday, December 31, 2008

Hari Yang Sangat Berharga!!

Hari yang melelahkan setelah kuhabiskan waktu ini untuk mengelilingi setiap sudut kota.Tak ada keluhan merasuki jiwa,bahkan sang malam pun tak dapat merobohkan badan yang terasa lelah ini.Biarkan jiwa ini melayang,memanjakan malam dengan lantunan musik santai yang terdengar,membiarkan diri menyatu kedalam malam kali ini.
Tak tertahan sedikitpun oleh pikiran ini"Adakah jawaban tentang kehidupan?"
menyedihkan memang;saat kita jujur, orang lain berdusta pada kita.Pada saat orang lain telah berjanji padamu, dia mengingkarinya.Dan saat kita memberikan perhatian, orang lain tidak menghargainya.

menyakitkan memang;saat kau mengirimkan surat pada orang lain, dia menghapus tanpa membacanya.Pada saat kita membutuhkan jawaban dari kabar yang kita sampaikan, dia tidak menjawab dan malah mengacuhkannya.Pada saat bertemu ingin menyapa, dia pura2 tidak melihat kita.Dan saat kau mencintainya dengan tulus tapi dia tidak mencintaimu.


kecewakah yang ku rasakan?
Saat dibutuhkan hanya pada saat orang lain dalam kesulitan.Pada saat bersikap ramah, orang lain terkadang bersikap sinis pada kita.Dan saat kita butuh orang lain untuk berbagi cerita, namun orang lain justru berusaha untuk menghindar.
Namun jangan pernah menyesali ataupun sedih atas apa yang terjadi pada kita.Karna sebenarnya hal-hal yang kita alami sedang mengajarkan kita sesuatu.".Saat orang lain berdusta padamu atau tidak menepati janjinya atau dia tidak menghargai perhatian yang kita berikan, sebenarnya dia telah mengajarkan kita agar tidak berprilaku seperti dia.Saat orang lain menghapus surat yang kita kirim sebelum membacanya atau saat bertemu dengannya dan ingin menyapa, dia pura2 tidak melihatmu,sebenarnya dia telah mengajarkan kita agar tidak berprasangka buruk dan selalu berpikiran positif bahwa mungkin saja dia pernah membaca surat yang kita kirim,atau mungkin saja dia tidak melihat kita. Dan saat orang lain tidak menjawab surat yang kita berikan, sebenarnya dia telah mengajarkan kita untuk menghargai kabar/surat teman2 kita yang membutuhkan jawaban.Saat kita bersikap ramah tapi orang lain terkadang bersikap sinis,sebenarnya dia sedang mengajarimu untuk selalu bersikap ramah pada siapapun dan sikap acuh dan sinis hanya akan membuat sakit hati pada orang lain.Saat kita butuh orang lain untuk berbagi cerita, dia berusaha untuk menghindar, sebenarnya dia sedang mengajarimu untuk menjadi seorang teman yang bisa diajak berbagi cerita, mau mendengarkan keluhan temanmu dan membantunya.Bila kita dibutuhkan hanya pada saat orang lain sedang dalam kesulitan, sebenarnya juga telah mengajarimu untuk menjadi orang yang arif dan santun dan agar kita selalu membantu orang lain saat dalam kesulitan.


Begitu banyak hal-hal yang tidak menyenangkan,menjengkelkan, egois dan sikap yang tidak mengenakkan hari ini.Dan betapa tidak menyenangkan menjadi orang yang dikecewakan, disakiti,tidak dipedulikan, tidak dihargai, atau bahkan mungkin dicaci dan dihina.Sebenarnya orang2 tersebut sedang mengajarkan kita untuk melatih membersihkan hati dan jiwa, melatih untuk menjadi orang yang sabar dan mengajarkan kita untuk tidak berprilaku seperti itu, agar tidak berprilaku yang akan membuat orang lain sedih apalagi sakit hati.
Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu orang dengan berbagai macam karakter yang tidak menyenangkan sebelum kita bertemu dengan orang yang menyenangkan dalam kehidupan kita dan kita harus mengerti bagaimana berterimakasih atas karunia itu yang telah mengajarkan kita sesuatu yang paling berharga dalam hidup kita.Dengan begitu, kita akan memperkaya hati dan jiwa kita dengan sikap yang bisa membuat orang lain senang, bahagia dan damai.

Tuesday, December 30, 2008

AIR

"Air selalu mencari tempat yang paling rendah/dasar."



Mari kita selalu membiasakan diri untuk berpikir dan bersikap seperti air, yaitu :
  • selalu ada unsur bening di dalamnya,
  • terus mengalir menuju tujuan walau harus menghadapi segala rintangan di perjalanannya,
    selalu rendah hati,
  • selalu mencari dasar / akar persoalan sebelum memikirkan dan memformulasikan solusinya.

Kadang kita takut untuk menceburkan diri ke dalam air. Kebiasaan kita adalah "bermain"di permukaan saja, padahal permukaan air itu kadang menipu; air yang bergelombang dan menakutkan belum tentu berbahaya,"air beriak tanda tak dalam" ,tapi sebaliknya juga "air tenangmenghanyutkan", itu kata pepatah.Maka hanya dengan menyelami masalah serta bersikap rendah hati, kita dapat berpikir lebih jernih. Dan kita selalu dapat bijaksana dalam
menyingkapi setiap hal yang kita hadapi dalam hidup.

Apakah Tuhan Menciptakan Kejahatan

Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada?
Apakah Tuhan menciptakan kejahatan?
Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswa nya dengan pertanyaan ini, "Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?".
Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, "Betul, Dia yang menciptakan
semuanya". "Tuhan menciptakan semuanya?" Tanya professor sekali lagi.
"Ya, Pak, semuanya" kata mahasiswa tersebut.
Profesor itu menjawab, "Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan
menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip
kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa
berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan."
Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor
tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa
sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.

Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, "Profesor, boleh saya
bertanya sesuatu?"

"Tentu saja," jawab si Profesor
Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, "Profesor, apakah dingin itu ada?"
"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah
sakit flu?" Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

Mahasiswa itu menjawab, "Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada.
Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan
panas suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel
menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita
menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.

Mahasiswa itu melanjutkan, "Profesor, apakah gelap itu ada?"
Profesor itu menjawab, "Tentu saja itu ada."

Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga
tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa
kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk
memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai
panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap.

Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut.
Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, "Profesor, apakah kejahatan itu ada?"

Dengan bimbang professor itu menjawab, "Tentu saja, seperti yang telah
kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak
perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara
tersebut adalah manifestasi dari kejahatan."

Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi Anda
salah, Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan.
Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia
untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan
kajahatan.
Kajahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia.
Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya."
Profesor itu terdiam.

cermin orangtua

Pernahkah terpikir oleh anda mengapa orangtua kita keras mendidik anda??
Suatu ketika di sebuah sekolah, diadakan pementasan drama. Pentas drama
yang meriah, dengan pemain yang semuanya siswa-siswi disana. Setiap
anak mendapat peran, dan memakai kostum sesuai dengan tokoh yang
diperankannya.
Semuanya tampak serius, sebab Pak Guru akan memberikan hadiah kepada
anak yang tampil terbaik dalam pentas. Sementara di depan panggung,
semua orangtua murid ikut hadir dan menyemarakkan acara itu.
Lakon drama berjalan dengan sempurna. Semua anak tampil dengan
maksimal. Ada yang berperan sebagai petani, lengkap dengan cangkul dan
topinya, ada juga yang menjadi nelayan, dengan jala yang disampirkan di
bahu. Di sudut sana, tampak pula seorang anak dengan raut muka ketus,
sebab dia kebagian peran pak tua yang pemarah, sementara di sudut lain,
terlihat anak dengan wajah sedih, layaknya pemurung yang selalu
menangis. Tepuk tangan dari para orangtua dan guru kerap terdengar, di
sisi kiri dan kanan panggung.
Tibalah kini akhir dari pementasan drama. Dan itu berarti, sudah
saatnya Pak Guru mengumumkan siapa yang berhak mendapat hadiah. Setiap
anak tampak berdebar dalam hati, berharap mereka terpilih menjadi
pemain drama yang terbaik. Dalam komat-kamit mereka berdoa, supaya Pak
Guru menyebutkan nama mereka, dan mengundang ke atas panggung untuk
menerima hadiah. Para orangtua pun ikut berdoa, membayangkan anak
mereka menjadi yang terbaik.



Pak Guru telah menaiki panggung, dan tak lama kemudian ia menyebutkan sebuah nama.


Ahha......ternyata, anak yang menjadi pak tua pemarah lah yang menjadi
juara. Dengan wajah berbinar, sang anak bersorak gembira. "Aku
menang...", begitu ucapnya. Ia pun bergegas menuju panggung, diiringi
kedua orangtuanya yang tampak bangga. Tepuk tangan terdengar lagi. Sang
orangtua menatap sekeliling, menatap ke seluruh hadirin. Mereka bangga.
Pak Guru menyambut mereka. Sebelum menyerahkan hadiah, ia sedikit
bertanya kepada sang "jagoan, "Nak, kamu memang hebat. Kamu pantas
mendapatkannya. Peranmu sebagai seorang yang pemarah terlihat bagus
sekali. Apa rahasianya ya, sehingga kamu bisa tampil sebaik ini? Kamu
pasti rajin mengikuti latihan, tak heran jika kamu terpilih menjadi
yang terbaik.." tanya Pak Guru, "Coba kamu ceritakan kepada kami semua,
apa yang bisa membuat kamu seperti ini..".

Sang anak menjawab, "Terima kasih atas hadiahnya Pak. Dan sebenarnya
saya harus berterima kasih kepada Ayah saya dirumah. Karena, dari Ayah
lah saya belajar berteriak dan menjadi pemarah. Kepada Ayah lah saya
meniru perilaku ini. Ayah sering berteriak kepada saya, maka, bukan hal
yang sulit untuk menjadi pemarah seperti Ayah." Tampak sang Ayah yang
mulai tercenung. Sang anak mulai melanjutkan, "Ayah membesarkan saya
dengan cara seperti ini, jadi peran ini, adalah peran yang mudah buat
saya..."


Senyap. Usai bibir anak itu terkatup, keadaan tambah senyap. Begitupun
kedua orangtua sang anak di atas panggung, mereka tampak tertunduk.
Jika sebelumnya mereka merasa bangga, kini keadaannya berubah. Seakan,
mereka berdiri sebagai terdakwa, di muka pengadilan. Mereka belajar
sesuatu hari itu. Ada yang perlu diluruskan dalam perilaku mereka.


Teman, setiap anak, adalah duplikat dari orang di sekitarnya. Setiap
anak adalah peniru, dan mereka belajar untuk menjadi salah satu dari
kita. Mereka akan belajar untuk menjadikan kita sebagai contoh, sebagai
panutan dalam bertindak dan berperilaku. Mereka juga akan hadir sebagai
sosok-sosok cermin bagi kita, tempat kita bisa berkaca pada semua hal
yang kita lakukan. Mereka laksana air telaga yang merefleksikan
bayangan kita saat kita menatap dalam hamparan perilaku yang mereka
perbuat.


Namun sayang, cermin itu meniru pada semua hal. Baik, buruk, terpuji
ataupun tercela, dimunculkan dengan sangat nyata bagi kita yang
berkaca. Cermin itu juga menjadi bayangan apapun yang ada didepannya.
Telaga itu adalah juga pancaran sejati terhadap setiap benda
didepannya. Kita tentu tak bisa, memecahkan cermin atau mengoyak
ketenangan telaga itu, saat melihat gambaran yang buruk.
Sebab.....bukankah itu sama artinya dengan menuding diri kita sendiri?

Peran apakah yang sedang diajarkan kepada kita saat ini?

Contoh apakah yang sedang diberikan kali ini? Dan panutan apakah yang sedang ditampilkan?

Seperti kata pepatah,"Like father..like son..", dari orang yang terdekatnya, dari orang yang mencintainya. Merekalah lingkaran
terdekat kita, tempat kita belajar, menerima kasih sayang, dan juga
tempat kita meniru dalam berperilaku dari lahir hingga saat ini.

Jadi wajar saja kalau kedua orang tua kita keras(bukan berarti kasar/dengan kekerasan) mendidik kita dan lebih terkesan harus mengikuti kemauan mereka..karena mereka berpikiran tanggung jawab dan beban moril yang mereka alami semasa proses pembentukan karakter dalam diri kita sendiri,,jadi jangan pernah kecewakan mereka.

Monday, December 29, 2008

Life means

what LIFE??
banyak orang tidak pernah mengerti apa arti sebenarnya dari L-i-f-e(kehidupan),,yang akhirnya penjabaran makna dari kehidupan itu sendiri jauh dari pemahaman sebelum-sebelumnya.Sepintas kita berpikir hidup itu hak hakiki yang sudah harus di jalani,hidup itu hanya suatu hiruk-pikuk segelintir permasalahan dan pada akhirnya nanti terbentuklah pemahaman "Namanya juga hidup,,pasti ada masalah!!" atau "kalau tidak ada masalah,tidak hidup nama!!".
Pada dasarnya menurut Mac tweenenn seorang profesor kewarganegaraan Inggris,arti Kehidupan adalah"pendeskriditan suatu proses mahluk sebelum mencapai kesempurnaannya dan tidak akan kembali ke titik awal dimana tidak lagi manusia sebagai status sosial tetapi sebagai mahluk kekal yang menjalani urusannya masing-masing".
kalau begitu kenapa kehidupan dikaitkan dengan suatu permasalah!!
padahal untuk pendeskripsian suatu permasalahan adalah suatu gesekan-gesekan yang dikarnakan kita berinteraksi dengan sosial kita..dan penganggapan terjadinya masalah dikarnakan sifat dasar keegoisan manusia yang pada akhirnya terjadinya gap(tembok)pembatas antara satu dengan yang lainnya.
Dan terciptalah pemahaman kehidupan=permasalahan.Dan menurut hasil survei Mac tweenenn pola pikir seperti ini pada manusia berkembang/detik-nya,karena emosi pada umumnya tidak terkontrol oleh individu manusia sendiri.Sehingga terciptalah pola pikir yang subjectif dan negatif,yang kemudian tertimbun/terpendam dipikiran kita dan terkumpul menjadi suatu permasalahan yang kompleks.Maka dari itu,sering terjadinya proses seperti ini timbul pola pikir life is problem.
Bagaimana caranya membedakan life dengan problem??

  1. berpikir positif dan simple.
  2. selesaikan segala urusannya tepat waktu.
  3. perbanyak komunikasi yang produktif tentang permasalahan.
  4. porsikan waktu untuk kapan berpikir untuk permasalahan dan kapan untuk tidak.
  5. awali anggapan permasalahan adalah 1/4 bagian dari kehidupan anda disetiap harinya.

Dengan begitu kehidupan akan berjalan terlepas dari berbagai macam permasalahan yang ada.,dan pada akhirnya Life isn`t problem.

Simple bagi saya!!
kehidupan adalah suatu proses perjalanan yang kita hadapin dari lahir sampai bertemu sang pencipta kita sebenarnya..bagaimana dengan kematian...kematian hanyalah suatu proses pemindahan dari dunia menuju akhirat...dan itu akan terus-menerus berlangsung..dan tidak ada proses penghilangan kehidupan..kecuali tuhan menghendaki penghapusan seluruh alam raya dan akhiratnya..Naaudzubillah himinnzalikhh...